Thursday, January 1, 2009
usaha yuk
|
Kita biasa menyebut usaha ini sebagai usaha sampingan. Kalau sekarang Anda ikut mencari penghasilan dalam keluarga, berarti Anda punya dua sumber penghasilan. Tetapi merintis usaha sendiri tidak segampang itu. Awalnya, Anda harus terlibat penuh dalam usaha tersebut. Anda harus merancang sistemnya, mengatur siapa saja orang-orang yang akan membantu, bagaimana usaha itu bisa berjalan, bagaimana memasarkan, dan lain sebagainya. Bahkan boleh dibilang, pada awal membuka usaha sendiri membutuhkan usaha yang lebih keras dibanding bila Anda bekerja pada orang lain. Tetapi jika usaha itu sudah mulai berjalan dengan baik, Anda pelan-pelan bisa mulai meninggalkannya dan membiarkan usaha tersebut berjalan dengan sendirinya. BILA INGIN MEMBUKA USAHA SENDIRI 1. Bidang Usaha Bidang usaha yang jarang atau belum ada. Bidang usaha yang sudah banyak dilakukan Sebenarnya, walau butik Anda baru berdiri, tapi kalau baju-baju yang Anda jual mempunyai kelebihan atau ciri khas dibanding pesaing Anda, selalu ada peluang untuk berhasil. Belum lagi faktor pelayanan yang baik, walau usaha ini banyak pesaingnya, maka peluang berhasil tetap terbuka. Butik BIG milik seorang artis bernama Hughes misalnya, cukup laku juga tuh. Itu karena butik itu memiliki spesialisasi khusus, yaitu hanya menjual baju yang diperuntukkan bagi wanita yang memiliki berat badan ekstra. 2. Lokasi 3. Pelanggan Beberapa orang yang saya kenal mempromosikan usahanya dengan memasang plang di depan tempat usahanya. Ada juga yang mempromosikan usahanya dengan memasang iklan kecil di koran. Atau, kenapa Anda tidak mencoba memasang iklan Anda di internet? Internet terbukti merupakan media yang ampuh dalam menjaring pembeli, walaupun mungkin tidak semuanya. Yang terpenting di sini adalah Anda sudah harus tahu terlebih dahulu tentang bagaimana cara Anda dalam mendapatkan pembeli atau klien dari usaha Anda. Bila tak ada pembeli, tak akan ada penjualan. Bila tak ada penjualan, maka usaha Anda tidak cukup berhasil. Sederha na sekali. 4. Tenaga Kerja Ada bagusnya bila Anda juga mempekerjakan anggota keluarga Anda. Seperti anak Anda (bila mereka sudah cukup umur tentunya), atau mungkin suami Anda. Dengan mempekerjakan mereka, maka secara tidak langsung mereka juga akan mempunyai rasa ikut memiliki dalam usaha tersebut. Dengan adanya rasa memiliki dari para anggota keluarga, maka dukungan yang diberikan kepada Anda untuk menjalankan usaha tersebut bisa makin besar. 5. Perencanaan Keuangan Selain modal awal, apa yang harus Anda lakukan adalah dengan membuat perkiraan arus kas selama 12 bulan ke depan. Perkiraan arus kas adalah perhitungan yang menggambarkan berapa perkiraan arus keluar masuk uang tunai dalam usaha Anda. Sama seperti modal, maka alangkah baiknya kalau Anda memiliki perkiraan arus kas selama 12 bulan ke depan. Dengan demikian, dalam setahun ke depan, usaha Anda diharapkan tidak akan bangkrut hanya gara-gara kehabisan uang tunai. Di samping hal-hal di atas, ada hal-hal lain yang perlu Anda perhatikan sehubungan dengan gaya berdagang Anda. Memang ada pepatah yang mengatakan bahwa orang baik bahagia hidupnya. Tapi dalam bidang usaha, terlalu baik hati bisa menciptakan sejumlah hambatan. Dan memang banyak pemilik usaha kecil yang terlalu "baik" dalam menjalankan usahanya, seperti: Karena itu, hindari hal-hal seperti itu. Pengusaha yang baik tidak berlaku baik, tetapi berlaku adil. Adil terhadap partner atau pelanggannya, adil terhadap harga barang dan jasa yang dijualnya, adil terhadap bawahannya, dan tentu saja adil terhadap dirinya sendiri. Terakhir, yang paling penting, ada satu hal yang harus ada di benak Anda sebelum memulai usaha sendiri, yaitu: SIAP UNTUK GAGAL. Rencanakan keberhasilan Anda, tetapi bersiaplah untuk gagal. Sehingga apabila Anda betul-betul gagal, Anda tidak akan down, dan |
kus
Ternyata penguasaan bahasa Inggris bukanlah determinan utama keberhasilannya. la cepat beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Sewaktu menjadi pencuci piring di New York, ia hanya berjualan pada hari Sabtu dan Minggu. Dan setelah menelusuri jalanan dengan naik bis, subway (kereta api bawah tanah), melihat-lihat kakilima, flea market, tokotoko pakaian, department stores di hampir seluruh kota, ia yakin dapat hidup dengan berjualan pakaian saja. Maka Kusnadi pun mulai mengumpulkan modal.
Selama sekitar 4 tahun ia menabung hasil mencuci piring di restoran pada hari Senin hingga Jumat, dan hasil berjualan es krim keliling blok-blok di New York pada hari Sabtu-Minggu. Hasilnya lebih besar. Hanya dengan berjualan es krim, ia dapat mengumpulkan 600 dolar. Karena itu, ia kemudian bisa kembali belanja kain dan menjahitkan pakaian desainnya di Bali dengan modal 3.000 dolar AS.
Kusnadi juga belajar bahwa bagi orang New York khususnya dan orang Amerika pada umumnya, uang bukan persoalan. “Asal ada kesan alamiah dan motif-motifnya sesuai dengan selera mereka. Warna-warnanya dekat dengan warna tanah. Warna kuning dan hijau tidak disukai. Kalau ini diperhatikan, maka harga tidak menjadi soal.
“Pernah satu setel pakaian yang saya tawarkan 40 dolar, orang tidak mau beli. Tapi ketika saya naikkan menjadi 200 dolar, malah laku. Terutama karena saya mengatakan bahwa ini adalah satu-satunya yang ada di dunia. Berbisnis di New York juga harus memberikan kesan besar. Karena itu ketika masih tinggal di rumah mertua, bila ada telepon, saya dan Neireida selalu menjawab Kusnadi Boutique. Kalau mereka tahu bahwa butik milik Kusnadi itu hanya rumah tinggal, milik mertua lagi, wah bisa hancur saya,” katanya menyimpulkan pelajaran yang diperolehnya dari segmen pasar yang dilayaninya.
Sekalipun Neireida semula mengatakan tak mau bekerja lagi di New York, namun perjalanan menentukan lain. Karena tuntutan pentingnya memahami syarat dan prosedur ekspor-impor ke dan dari Amerika, Neireida kemudian menangani masalah ini. Hal itu semula terpaksa dilakukan karena Kusnadi tak bisa mengurus masalah pakaian jadi dan tenun ikat bekas seberat 70 kg yang ditahan pihak bea cukai Amerika. Mereka berdua harus mengumpulkan ribuan dolar untuk dapat menebusnya. Jadilah mereka partner bisnis, yang tetap bersama sekalipun memutuskan untuk mengakhiri ikatan perkawinan mereka dan bersiap membina keluarga baru dengan pasangan masing-masing (Kusnadi kemudian menikah dengan seorang gadis asal Indramayu yang pernah tinggal di Bandung). Neireida mengurus perizinan dan hubungan dengan butik-butik yang menjual tenun ikat mereka di Amerika dan Kanada.
Kini Kusnadi memiliki dua butik di New York dan Los Angeles. la mendistribusikan produknya melalui 1.650 butik di Amerika dan Kanada. Semua proses produksi dilakukannya di Bali lalu diekspor ke Amerika. Di salah satu butik langganannya di Beverly Hills, tempat para bintang Hollywood, ia bisa menjual sepotong pakaian seharga 6.000 dolar AS. Salah satu topi dari tenun ikat berlabel Kusnadi pernah dipakai Mick Jagger dan kelompoknya dalam suatu pertunjukan di California.
Omsetnya tahun 1991 senilai 1,2 juta dolar dan sekarang (2001) mungkin sudah melampaui 5 juta dolar AS. Jumlah yang luar biasa mengingat modal awalnya hanya 60 dolar. Kusnadi mempekerjakan lebih dari 100 karyawan di Bali, tempat mereka rnendesain dan menjahit pakaian. la menghabiskan waktu sekitar dua bulan di Bali dan dua bulan berikutnya di Amerika.
“Separuh dari yang bekerja di pabrik saya adalah kawan-kawan saya di Gubuk. Saya ajak ke Bali dengan keluarganya. Anak-anak mereka saya sekolahkan dan saya berjanji akan menyekolahkan mereka sampai universitas. Selebihnya dari pelosok-pelosok desa di Bali, yang namanya tidak akan dikenal para turis. Walaupun mereka hanya lulusan SD, namun kerja mereka luar biasa. Saya juga punya dua rumah di dua desa terpencil di mana saya membuat batik. Kawan-kawan saya di sana ada 10 orang di tiap rumah,” demikian Kusnadi menuturkan sumber daya manusia yang dimilikinya.
Ketika ditanya apakah ia merasa sudah berhasil dalam bisnisnya, Kusnadi mengatakan tidak tahu. la agaknya masih melakukan perjalanan “ke dalam dirinya” setelah gagal dalam perkawinan yang pertama. Yang jelas keyakinan pokok (belief) Kusnadi bahwa ia dapat hidup di New York dengan menjual baju telah terbukti benar.
Jika Anda adalah “anak kampung” yang hanya berijazah SMA, tidak memiliki modal usaha lebih dari 60 dolar dan tidak fasih berbahasa Inggris, Kusnadi mungkin dapat menjadi tokoh inspiratif.
cerits
Bukan berarti penerbit ini lantas cuma menerbitkan hasil karyawannya sendiri. Tidak sama sekali. Sebab, hingga sekarang belum ada satu pun buku Sitok yang diterbitkan oleh KataKita. Sitok baru sampai pada tahap menimbang-nimbang untuk menerbitkan bukunya lewat KataKita. Yang jelas, "KataKita lebih bagus," ujarnya pede.
KataKita, kata Sitok, lahir karena ia menilai jumlah penerbit masih minim dan tak sebanding dengan potensi pembaca yang ada. Parahnya, penerbit yang ada, menurutnya tidak terlalu bagus mutunya. "Ngomong soal editing sama lay out. Uh, banyak yang berantakan," keluh Sitok. Itulah yang akhirnya mendorong sastrawan yang lahir di Godong Jawa Tengah ini untuk mendirikan KataKita.
Segudang pengalaman juga memantapkan Sitok untuk mendirikan KataKita. Maklum, sudah belasan tahun Sitok menggeluti dunia sastra. Ia pun merasa sudah tahu persis segala macam urusan dunia penerbitan. Dari editing, lay out, hingga pemasaran sebuah buku. "Bentuk kongkretnya, ya itu tadi harus punya penerbitan buku sastra sendiri," kata Sitok panjang lebar.
Urusan modal juga tak menjadi masalah bagi Sitok. Berbeda dengan penulis yang umumnya miskin-apalagi di Indonesia yang belum menghargai penulis-Sitok mengaku punya tabungan yang cukup besar hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun untuk mendirikan KataKita sendiri. "Sebenarnya, duit itu saya persiapkan untuk membangun art corner di Jogja," bisik Sitok, yang ogah membeberkan modal awal usahanya itu.
Semuanya diurus sendiri
Berbeda dengan bayi berumur setahun baru belajar berjalan, KataKita sudah berjalan cukup cepat. Menurut pengakuan Sitok, sekarang ini sudah 30 judul buku yang ia terbitkan. "Malah sudah ada yang cetak ulang sampai tujuh kali, lo," ujar Sitok bangga. Ia sendiri tak sekadar menjadi komandan di KataKita, tapi juga terlibat pada semua proses produksi secara detail.. "Mulai dari memilih naskah yang masuk, editing, lay out, hingga ke pemasaran, aku ngerti semuanya," tambahnya.
Bukan berarti Sitok tak percaya pada anak buahnya ya. Menurut Sitok, dia memang sengaja mengikuti semua proses produksi karena produk KataKita masih terhitung sedikit. "Saya enggak ingin sembarangan, " ujarnya mantap. Selain itu, ia juga berharap buku terbitan KataKita punya mutu yang bagus. "Ini bukan sekadar bisnis tapi juga idealisme," imbuh Sitok. Tak heran jika Sitok mengaku sangat ketat saat menyeleksi naskah. "Saya tidak mau menerbitkan buku yang pasti laku namun mutunya jelek," tegasnya.
Biarpun karya-karya Sitok adalah sastra yang serius, tak semua terbitan KataKita masuk kategori sastra serius itu. Ada juga buku-buku pop remaja yang ia terbitkan. Sitok rupanya tak menyangkal bahwa pasar buku sastra serius sangat tipis. Kalau hanya mengharapkan dari penjualan buku sastra serius, "Bisa-bisa KataKita harus mengucapkan kata perpisahan sebelum setahun, ha, ha, haĆ¢€¦," ujar Sitok.
Ini bukan main-main lo. Soalnya, bisnis penerbitan buku memang susah-susah gampang. Sitok sendiri pernah merasakan masa pahit berbisnis buku. "Saya pernah kehabisan modal. Uang tabungan keluarga habis, ludes, des," kata Sitok. Pengalaman itu terjadi saat KataKita baru berumur empat bulan. Waktu itu, kata Sitok, KataKita harus melunasi biaya cetak. Sementara hasil penjualan buku yang sudah diterbitkan baru akan diterima pada bulan ke lima. Jadi, "Itu pengalaman yang memang menyeramkan. Bikin saya degdegan," imbuh Sitok.
Pun ketika BBM kini menjadi biang persoalan. Sitok mengaku sudah mulai berhitung efeknya atas usaha penerbitannya. Salah satunya antisipasinya adalah dengan mengurangi jumlah produksi atau mengganti mutu kertas agar KataKita tetap bisa berjalan. Biasanya, KataKita mencetak 3.000 buku sekali cetak, jumlah tersebut bisa saja berkurang. Padahal, "Jumlah itu sudah pas," ujarnya. Artinya, ongkos produksinya sudah setimpal dengan penjualan buku. Selain itu, 3.000 adalah jumlah yang cukup layak untuk disebar ke berbagai toko. Nah, "Kalau BBM nanti naik. Mungkin saja akan kita kurangi," ujar Sitok masygul.
Tak semua urusan bisa dipegang Sitok. Untuk urusan distribusi misalnya, Sitok menunjuk sebuah distributor untuk menangani semua penjualan buku terbitan KataKita. Uniknya, dari awal sudah ada perjanjian bahwa KataKita tidak menerima pengembalian buku. "Ada perjanjian hitam di atas putih, lo," lanjutnya. Karena itu, KataKita mungkin satu-satunya penerbitan buku yang tidak mempunyai gudang.
Strategi-strategi itu terbukti ampuh. Biarpun berawal dari idealisme dan bukan dimaksudkan untuk mencari laba, KataKita kini bertumbuh dengan pesat. Tiap bulan, penjualan buku terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah produksi. Tak heran jika saat ini total aset penerbitan buku yang sekarang ini kebanjiran naskah itu sudah mengembang berlipat-lipat. "Jumlahnya unbelievable," kata Sitok. Lagi-lagi, dia tak mau menyebutkan angkanya.
+++++
Tukang Cerita Turun-temurun
Nama Sitok Srengenge bukanlah nama yang sengaja dipakai sebagai ganti nama aslinya seperti yang jamak dilakukan para penulis. Nama itu benar-benar asli pemberian ayahnya. Rupanya, ayah Sitok memang gemar memberikan nama-nama yang unik buat anak-anaknya. Tak cuma itu, ayah Sitok juga dikenal sangat gemar bercerita. Saban hari, orang tua itu akan bertandang ke warung atau ke rumah tetangga untuk bercerita tentang apa saja. "Kalau hidup di kota, mungkin ayah saya sudah jadi penulis, ha ha ha," ujar Sitok.
Lain ayahnya, lain Sitok. Sejak umur belasan, Sitok sudah menuangkan ceritanya lewat tulisan. Karyanya tak hanya diakui di dalam negeri saja, penduduk mancanegara pun kagum pada kemahirannya merangkai kata. Tak heran pada tahun 2000, bersama dengan beberapa orang lainnya, Sitok pernah dinobatkan majalah Asiaweek sebagai Leaders for the Milenium in Society and Culture.
Nah, akar ini tak hanya berhenti pada Sitok. Putri semata wayang Sitok pun mewarisi kemahiran bertutur lewat tulisan itu. Karya perdana putrinya yang berjudul Nothing but Love tak cuma diterbitkan, tapi dicetak ulang hanya sebulan setelah diterbitkan. "Sekarang sudah cetakan kedelapan," tutur Sitok bangga. Padahal, Sitok sempat bimbang untuk menerbitkan novel karya anaknya. "Tapi, dari pendapat beberapa teman, tanpa mengatakan ini karya siapa, mereka bilang ini bagus," ujar Sitok sambil terbahak. Jadi, benar-benar turun-temurun, kan?
out bound
Dalam bisnis outbound, selain fun, challenging dan hobi, ini bisa mencetak duit lumayan besar bagi pebisnis yang rela menggeluti segmen ini..
BERANEKA macam materi permainan yang diberikan, tak ubahnya permainan yang kerap dilakukan oleh anak-anak. Namun, di balik permainan yang tidak begitu njelimet dan dapat dilakukan oleh siapapun, terdapat aspek pembelajaran yang mampu melihat potensi dan pOutbound Management Training, sekarang seolah menjadi tren baru bagi banyak perusahaan untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia yang dimilikinya. Pelatihan yang barbau petualangan di alam bebas ini, di beberapa negara maju seperti Eropa dan Amerika telah lama dikenal dan digunakan berbagai perusahaan.
Sistem pelatihan ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980-an, melalui sistem franchise yaitu Outwar Bound Indonesia dengan materi pelatihan yang diadopsi dari negara asalnya yaitu Inggris. Begitu besarnya efek yang dapat diperoleh, menjadikan usaha ini kian berkembang di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Materi pelatihan yang diberikan banyak yang disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia.
Melalui aneka permainan yang dikemas secara fun, pelatihan ini tidak begitu membebani secara fisik. Namun lebih menekankan kepada permainan yang menciptakan timbulnya kreativitas dan keberanian seseorang untuk dapat melakukan sesuatu yang diperintahkan melalui permainan tersebut. Dengan begitu diharapkan timbul sikap mental positif serta kemampuan untuk bekerjasama secara kelompok.
Beraneka macam permainan kerap digunakan dari mulai yang low impact hingga high impact, seperti berseluncur di atas tali, permainan tali di atas ketinggian 8-10 meter, menjatuhkan diri, permainan jaring laba-laba, menyusun balok kayu, melempar air dalam plastik, dll. Selain itu media diskusi juga kerap digunakan sehingga mampu memberikan pembelajaran bagi para peserta dalam menggali potensi diri yang dimilikinya. Dengan ditunjang tenaga psikolog dan medis.
Melalui program outbound management ini, peserta dilatih kemandirian. “Namun tujuan yang utama dari pelatihan ini yaitu untuk memperluas rasa antusias dan pemahaman diri sendiri, orang lain dan lingkungan untuk mempertinggi komunikasi antara individu dengan kelompok,” jelas Edi Djoewandi, Manager Canoe Adventure yang juga aktivis Wanadri.
Berbagai materi yang diberikan melalui permainan tersebut, diharapkan dapat memberikan masukan untuk bagian sumber daya manusia dalam menempatkan karyawan sesuai dengan kapasitas pribadinya. Diharapkan melalui pelatihan outbound ini, dapat terbangun kerjasama tim, membangun jiwa kepemimpinan, percaya diri. Biasanya pelatihan ini diikuti mulai dari level direksi hingga supervisor, bahkan bisa juga hingga level pelaksana.
Maraknya pelatihan ini, belakangan menjadikan lahan usaha bagi sebagian orang yang mempunyai hobi berpetualang. Dengan ilmu yang didapat selama di lapangan, biasanya menjadi bekal untuk mendirikan usaha seperti ini. Bahkan begitu maraknya usaha ini, di Bandung saja bisa mencapai 30-40 perusahaan.
Perusahaan yang menikmati tingginya kebutuhan akan pelatihan ini adalah Bina Wana Sarana (BWS) yang eksis sejak tahun 1995. Perusahaan ini dapat berkembang hingga empat cabang, yakni di Bandung, Jakarta, Semarang dan Surabaya. Klien yang kerap menjadi langganannya berasal dari berbagai perusahaan besar di Indonesia, seperti Telkom, perbankan, serta berbagai perusahaan swasta seperti PT. Pikiran Rakyat.
Sebelum melakukan pelatihan, biasanya BWS mengadakan riset diagnosis di bagian personalia untuk mengetahui kondisi SDM perusahaan yang menjadi kliennya. Hal ini untuk mengindentifikasi materi pelatihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Dengan cara ini dapat berimplikasi terhadap materi pelatihan, mulai aktivitas hingga simulasi permainan.
“Melalui pelatihan outbound training management ini, diharapkan perusahaan mendapatkan keuntungan lebih untuk meningkatkan SDM-nya. Karena pelatihan bisa disesuaikan dengan kondisi perusahaan untuk menempatkan karyawannya, melalui laporan kegiatan, baik untuk individu maupun kelompok,” kata Dadang M. Rizal, Kepala Kantor Usaha BWS Bandung.
Lama pelatihan yang dilakukan bisa bervariasi sesuai dengan kebutuhan perusahaan, sesuai dengan paket yang ditawarkan mulai dua hari, tiga hari hingga lima hari. Dalam satu kali even peserta dikenakan biaya Rp 650.000 - Rp 800.000/orang/hari. Dalam setiap pelatihan yang digelar, minimal harus diikuti oleh 45 orang.
Dalam setiap even, BWS telah mempunyai lahan khusus yang telah dibuat untuk outbound, bekerjasama dengan pihak Perhutani di kawasan Situ Gunung Sukabumi.
Lain lagi dengan pengalaman dari Eddy Djoewandi, Manager Canoe Adventure. Hobinya berpetualang di alam terbuka hingga ke berbagai tempat, memberikan pengalaman yang berharga untuk menggeluti usaha ini. Tergabung dengan Wanadri memberikan banyak ilmu tentang dunia petualang di alam terbuka.
Hobi yang dulunya memerlukan biaya yang cukup tinggi, ternyata tidaklah sia-sia. Sejak tahun 1995 mendirikan usaha dengan beberapa rekan di bawah bendera Canoe Adventure. Ternyata hobi yang digelutinya tersebut dapat menjadi penghasilan yang cukup lumayan, dengan mengadakan berbagai pelatihan Outbound Training Management.
Berbagai paket pelatihan ditawarkan dengan harga dan lama yang beragam tergantung permintaan klien yang disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya untuk paket gathering yang memerlukan waktu sehari saja, tarif Rp 150.000/orang/hari. Paket dua hari satu malam Rp 300.000/orang/, paket tiga hari dua malam Rp 800.000/orang/. Sedangkan untuk paket empat hari tiga malam setiap peserta dikenakan tarif Rp 1,5 juta/orang.
Besarnya biaya yang dikenakan, sudah termasuk transportasi dan akomodasi serta fasilitas yang dibutuhkan untuk pelatihan, peserta hanya membawa pakain yang dibutuhkan saja. Tingginya permintaan untuk pelatihan sangat dirasakan, bahkan dalam masa liburan dalam satu bulan bisa menyelenggarakan pelatihan hampir setiap akhir pekan. Yang menarik, metode outbound ini sudah banyak digunakan lembaga pendidikan sebagai media pengganti opspek, seperti klien tetapnya STMB Bandung dan beberapa lembaga pendidikan lainnya.
Memang di tengah tingginya persaingan bisnis, terkadang karyawan yang berkualitas menjadi aset yang begitu besar bagi perusahaan. Tidak heran apabila metode-metode pelatihan untuk meningktkan SDM kerap menjadi pilihan, begitu halnya dengan pelatihan outbound yang seolah menjadi kebutuhan bagi setiap perusahaan.
laundry
Sepertinya doa Fen Saparita terkabul. Dalam tempo tiga tahun setelah diwaralabakan workshop Melia sudah tersebar di seluruh kota di Indonesia. Padahal, pada saat mendirikan Melia, Fen berangkat dari nol. Artinya, dia tidak tahu tentang bisnis laundry dan pemasarannya. Berkat kesabaran dan kualitas layanan, akhirnya Melia terus berkembang. "Awal mendirikan sampai tiga bulan pertama saya tidak mendapatkan konsumen," akunya mengenang.
Namun setelah membuka outletnya di Hero Jogjakarta, nama Melia pelan tetapi pasti terus merangkak dan akhirnya melesat seperti sprinter. Bahkan, Fen diminta oleh mantan bos maupun mantan rekan kerjanya di Jakarta untuk mengeset laundry di sejumlah daerah. "Pada waktu itu masih bell putus karena saya belum mewaralabakannya," terang Fen.
Setelah mendapat masukan dari Purdie Chandra, bos Primagama, Fen mulai mewaralabakan Melia Laundry. Pengalamannya membesarkan bisnis laundry dari nol membuat Fen memiliki banyak trik dan strategi untuk memenangkan pasar. Ini sangat membantu para franchisee-nya. Bahkan sejumlah franchisee Melia mencatat kinerja yang fenomenal, di antaranya Melia Laundry Bali.
"Dalam tempo enam atau tujuh bulan setelah berdiri, Melia Laundry Bali sudah membukukan omset 300 potong pakaian per hari. Padahal untuk mencapai omset tersebut saya memerlukan waktu lima tahun," ujar Fen.
Ini tidak terlepas dan kejelian Melia Laundry membidik pasar. Di Bali ada sebuah laundry asing yang membidik segmen A+, A dan A-. Fen melihat bahwa segmen kelas A- dan B+ belum tergarap, maka Melia langsung mengcreate pasar tersebut. "Mutu layanan bisa dikatakan sama tetapi dari sisi harga, kami sangat kompetitif. Misalnva, pesaing mematok harga Rp 18 ribu per potong, kami Rp 10 ribu per potong. Dari sinilah konsumen Melia terus membengkak," kata Fen mengungkapkan strateginya.
Strategi menggarap pasar kelas A- dan B+ ini is terapkan hampir di semua workshop Melia di Pulau Jawa. Namun untuk luar Pulau Jawa, layanan Melia sudah masuk ke kategori A+, A dan A-.
Strategi lain yang dilakukan Melia selain menciptakan pasar B+ adalah memperluas jaringan untuk menjemput konsumen. Oleh karena itu selain mewaralabakan workshop, Fen juga menjual outlet, yang berfungsi sebagai jaringan pemasaran. "Harganya cuma Rp 5 juta. Pada waktu ada pameran franchise di Jogjakarta peminatnya sangat banyak sehingga harus antre," senyum Fen.
Uniknya lagi, Fen memberikan kesempatan franchisee yang membeli workshop Melia untuk menjual outlet. Kalau franchisee berhasil menjual 20 outlet maka uang investasi yang ditanamkan ke Melia akan impas. "Di Bali dalam waktu singkat sudah berhasil menjual tujuh outlet," ucapnya
vintage
Semua yang berbau fashion seperti di luar kepala. Dunia fashion mulai digan¬drungi Yeani saat melalui masa remaja di Negeri Kanguru, saat itu ia rajin membaca majalah-majalah fashion seperti Vogue, yang saat itu tenth belum mudah dijumpai di Indonesia. Kegemarannya akan dunia fashion ter¬bawa sampai ketika ia kembali ke Indonesia, sehingga meskipun telah bekerja di sebuah perusahaan perik¬lanan terkemuka ia masih menyempatkan diri membuka butik. Bagi Yeani Vintage Couture adalah sarana menyalurkan kegemarannya menikmati perkembangan dunia fashion.
Tidak perlu riset pasar dan menghitung prospek bisnis vintage. Santai tapi pasti Yearn mendirikan butik vintage. ia mulai mengumpulkan aksesoris dan busana lawas sambil mencari-cari lokasi di mana ia akan mendirikan butiknya. Mengapa busana lawas? Butiknva memang hanya menyediakan busana dan aksesoris "bekas" yang berumur 20 tahunan. Sebagaimana sebuah dennisi barang vintage yang menurut Yeni busana atau aksesoris dapat dima-sukan dalam katagori vintage jika usianya 20 tahunan lebih.
Vintage sampai saat ini memang masih terdengar asing di Indonesia tak terkecuali para konsumen dart kalangan zetset yang sering mondar-mandir belanja di butik. Memang ada risiko membawa "dagangan" dengan konsep yang masih asing. Edukasi pasar adalah pekerjaan ekstra bagi Yeani untuk mengenalkan konsep Vintage Couture. Jika di Amerika trend berbusana vintage popular, seiring dengan ekspose media terhadap artis-artis Hollywood yang memakai busana vin¬tage di hadapan publik Sebab korewp vintage menjadi gava hidup yang unik asing dan dikenal luas.
Lain halnya di Indonesia Yeani kerap berperan seperti "pengajar mode," dengan mengenalkan konsep bekas ala vintage kepada pengunjung butiknya." Tak jarang saya harus menjelaskan panjang Iebar mengenai konsep vintage kepada pe-ngunjung sebab banyak pengunjungyang menyamakan vintage tak ubahnya seperti pakaian bekas di toko barang bekas. Atau bahwa semua yang kuno ungkap Yeani.
Bagaimana cara Yeani menda-patkan busana dan aksesoris? Untuk memenuhi isi butiknya Yeani mengimport langsung dari estate seller (pembeli barang antik dari gudang keluarga) di Amerika, Inggris, dan Kanada. Menurut Yeani mitranya di tiga Negara tersebut secara rutin mengirimkan
foto barang melalui email. Setelah contoh dikirim Yeani memilih barang mana yang akan ia ambil. Ketiga Negara tersebut menurut Yeani memiliki karakter barang yang berbeda-beda."Barang dari Amerika range usia pakaiannya lebih beragam dart tahun 30-an pun ada. Kalau dari Inggris banyak model hippie, sedangkan yang dari Kanada barangnya yang high-end. seperti baju pesta dan jika casual pun barangnya bagus dan rapih," jelas Yeni.
Dalam sebulan sedikitnya Yeani membelanjakan Rp 5 juta untuk menambah koleksi butiknya. Pesanan dikirim melalui Pos. Beberapa kalipesanan tidak sampai ketangannya. Namur) resiko itu sudah disadarinya. Toh ia tetap memilih pengiriman melalui jasa pos, ketimbang
pengiriman swasta lain. Dengan cara itu dana pengiriman lebih murah sehingga harga jualnya tidak terlalu tinggi. -Terkadang ongkos pengiriman lebih mahal dari harga barang pesanannya," ungkap 'leant
Koleksi vintage yang dimiliki Yeani beragam dari gaun, ikat piggang sepa¬tu boot, sepatu wanita, aksesoris seper¬ti cameo, rhinestone, charm bracelet. Koleksi dari desainer temama tahun 70-an seperti Bill Blass, Oleg Cassini (desainer Jacky Cenedy) Anne Fogarty pun terpampang dengan bandrol Rp1,6 sampai 2 juta. Untuk busana-busana casual kisaran harganya men¬capai ratusan ribu. Uniknya Vintage Couture memiliki koleksi yang beru¬mur lebih dari seratus tahun seperti sebuah pengikat dasi yang dibuat tahun 1800-an. Selain itu juga dijual barang yang di sebut "new old stock" barang tua yang masih dalam kondisi barn.
Vintage adalah gaya hidup. Sebuah kesadaran individualis dalam berbu¬sana. Yang mementingkan eksklusifitas. Para bintang Hollywood
menggunakan busana vintage karena keunikannya sehingga tak mungkin dikenakan orang lain. Sebab itu tak seperti usia busananya yang uzur penggemar emir Cage adalah orang yang sadar fashion, konsumennya datang kebanyakan dari kalangan ABG dan mereka yang menginjak usia 30-an.
Dalam industri fashion Yeani menyebut pasar bisnis vintage adalah minoritas karena menu-rutnya belum banyak orang yang memahami konsep yang real vintage. "Pasar vintage sangat kecil dibanding dengan apa yang ditawarkan industri fashion saat ini. Pasar vintage itu nest tidak mass," papar Yeani.
Dan lagi karakter konsumen di Indonesia, menurut Yeni, agak berbe¬da. Menurutnya banyak pembeli yang belum bisa menerima cacat yang terda¬pat
pada barang yang dijual. Misalnya warnanya agak pudar atau terdapat sedikit lubang. "Padahal yang namanya barang second- hand apalagi umurnya puluhan tahun tentunya kondisi barang tidak seratus persen sem¬puma. Kalau di luar negeri ketidaksempurnaan itu justru menambah nilai, karena terlihat nilai sejarahnya," jelas Yeani.
Sayangnya di Indonesia masih sulit ditemukan pemilik pakaian yang bernilai vintage dengan kondisi yang masih layak pakai. Sehingga saat untuk menyuplai kebutuhan butiknya, Yeani masih mengandalkan import dari luar negeri. Yeani berharap masyarakat akan melirik vintage sebagai alternatif membeli busana berkua-litas yang murah namun tetap bergaya. __________________
toko on line
| ||
Tulisan ini akan menjabarkan beberapa pertanyaan terbanyak dari pengunjung kami seputar memulai kegiatan pemasaran atas produk yang dijual melalui media internet. Beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan adalah : Berikut adalah jawaban dari tim kami Apakah bila ingin memulai pemasaran di internet harus mengerti akan internet ? Bila kita ingin masuk dalam komunitas pemain basket tentunya kita tidak harus mengetahui bagaimana aturan dalam permainan basket, berbeda halnya bila kita ingin masuk sebagai tim dari pemain basket tentunya kita harus mengerti aturan permainan dalam basket. Begitu pula dengan internet bila kita hanya ingin menjadi "pemain" yang sifatnya general saja tidak perlu ada aturan atau teknik yang kita pelajari, modal sekedar tau saja sudah cukup. Namun bila kita ingin masuk pada hal yang lebih spesifik misalnya sebagai pemasar atau bila telah memiliki web akan memfungsikan web kita menjadi media promosi dan berjualan, tentunya ada banyak hal penting yang harus kita ketahui untuk berhasil disitu. Hal ini kami sampaikan untuk menjauhkan sugesti bahwa di internet kita bisa memperoleh keberhasilan dengan mudah. Untuk berhasil sebagai pemasar di internet tentu tidak semudah yang di khayalkan tapi tidak juga serumit yang dibayangkan. Dalam dunia internet informasi bisa kita dapatkan begitu mudahnya, termasuk berbagai ilmu yang kita inginkan. Anda bisa mencari berbagai litertatur tentang bagaimana cara memasarkan di internet beserta "aturan-aturan" untuk memulai keberhasilan. Beberapa literatur bagus yang dapat dipelajari misalnya di www.seokita.com atau www.virtual.co.id/blog Dalam dunia pemasaran di internet salah satu teori teknik yang dikenal adalah SEO (Search Engine Optimization) yaitu bagaimana cara mengeoptimalkan web kita dalam search engine. Biasanya efek dari SEO ini adalah ditampilkannya informasi web kita di urutan terbaik (halaman terbaik biasanya didefinisikan di halaman 1 - 10 hasil pencarian) pada saat orang mencari produk yang kita tawarkan di google atau yahoo. Apakah SEO itu cukup mudah ? Bila dilihat secara teori memang bagi orang awam terkesan susah namun menurut kami SEO adalah realitas apa adanya dan realitas sewajarnya, apa maksudnya ? Artinya kesimpulan dari teori itu adalah sungguh merupakan aturan yang standar saja seperti rajin mengupdate web agar informasi tetap dibutuhkan pengunjung, membuat tulisan yang bagus agar web kita dibaca hingga selesai oleh pengunjung, saling berkenalan dengan pemilik web lain lalu dilanjutkan dengan bertukar link, menata kalimat dengan baik agar mudah dipahami oleh pengunjung dan search engine. Apakah hal itu sulit dilakukan ? kami rasa tidak ya Saya rasa google juga tidak bodoh, sehingga tidak menerapakan aturan yang sulit agar sebuah web dapat terindex dengan baik dalam databasenya, karena google punya kepentingan untuk bisnis search enginenya. Bisa dibayangkan apa jadinya bila yang ditampilkan dalam pencarian google adalah hanya web orang-orang yang tau tentang bagaimana cara SEO ? pastinya banyak orang yang meninggalkan google, karena yang setiap mencari dalam google hanya web itu itu saja yang ditampilkan. Saya pernah mendapati kasus yang nyata, bahwa web seorang pakar SEO, ternyata jumlah pengunjungnnya bisa kalah banyak dengan web klien kami seorang ibu-ibu yang buta sama sekali akan SEO. Pakar SEO hanya mampu meraih jumlah pengunjung web 700 an orang perhari dan web seorang ibu bisa mendatangkan pengunjung lebih dari 1000 perhari (kami cek di hari dan waktu yang sama). bagaimana bisa ? ternyata google itu memang cukup adil, setalah kami analisa web seorang ibu itu rajin sekali mengupdate daftar barang yang dijualnya dan ini dilakukan hampir setiap hari. So, bila kita melakukan hal-hal yang standar saja di internet seperti yang saya sebutkan diatas (rajin mengupdate web agar informasi tetap dibutuhkan pengunjung, membuat tulisan yang bagus agar web kita dibaca hingga selesai oleh pengunjung, saling berkenalan dengan pemilik web lain lalu dilanjutkan dengan bertukar link, dll) kita sudah punya hak berhasil dalam memasarkan produk kita. Bagaimana cara memulai bisnis online ? Sebagian klien kami bahkan ada yang memulai bisnis onlinenya, padahal mereka belum tau apa yang harus mereka jual. meskipun ini beresiko tapi syah-syah saja karena keinginan untuk memulai itu sudah merupakan langkah bagus. Namun alangkah baiknya bila sebelum memulai bisnis online, kita tentukan lebih dahulu apa yang akan kita tawarkan atau kita jual. Lalu bila memang tidak kita produksi sendiri pastikan bahwa sumber barang tetap harus konsisten dan tidak bermasalah, artinya paling tidak sudah ada hubungan baik antara kita dengan penyedia/pemasok barang yang akan kita jual. Jangan lupa bahwa berjualan melalui media internet tetap harus menggunakan prinsip-prinsip dan pola dagang dalam dunia konvensional, seperti barang yang kita tawarkan harus bagus, bersedia barang diretur apabila barang tidak memuaskan, melayani dengan cepat, melayani dengan ramah, meskipun hanya lewat email tetap gunakan bahasa-bahasa yang sopan dan santun. Prinsipnya dunia online hanya membantu memperluas pasar namun sifat dan pola perdagangannya tetap mengacu pada perdagangan dalam dunia konvensional. Menurut saya pemasaran dunia online bukan semata-mata mencari bentuk dan pola baru melainkan pengembangan dari pola pelayanan konvensional, sehingga begitu kita bermain didunia online akan menambah kompleksitas pelayanan kita. Bila kita sudah memiliki bisnis di konvensional lalu ingin mengembangkan pasar dalam dunia online, hal ini akan jauh lebih mudah, karena paling tidak prinsip-prinsip dan pola dagang secara umum telah kita miliki dan ini bisa langsung diterapkan dalam dunia online. Rumitkah mengelola/mengupdate contents atau isi web kita ? Setiap penyedia jasa pembuatan web atau penyedia paket web tentunya harus menyediakan halaman khusus bagi pemilik agar pemilik web mudah untuk melakukan update halaman webnya. Untuk melihat bagaimana proses input data paket web rancangan kami, telah kami sediakan video tutorialnya dan dapat dilihat di http://help.dibekasi.net , hal ini kami tujukan agar para klien kami lebih mudah dalam mempelajari dan memahami tata cara menginput data dengan menggunakan web rancangan kami. Haruskan online setiap saat ? Petanyaan ini juga sering kali diajukan, apakah kita harus online setiap saat bila berbisnis atau memanfaatkan media web untuk berjualan ? Jika online setiap saat yang dimaksud adalah terus menerus setiap menit dan jam didepan komputer tentunya jawabannya adalah tidak !. namun bila definisi online setiap saat adalah setiap hari ada beberapa waktu kita yang kita gunakan untuk memeriksa email masuk, misalnya setiap pagi, siang, sore atau malam tentu saya setuju untuk menjawab ya ! dan memang harusnya demikian. Dalam dunia online, merespon dengan cepat dari setiap traffic yang masuk melalui email adalah merupakan salah satu kewajiban yang harus kita lakukan. Sehingga memeriksa email dengan rutin merupakan syarat mutlak (memeriksa email tidak repot kan ? |
fashion
Penggemar fashion adalah kalangan atas, terbatas, tapi mampu menggerakkan industri yang rodanya bertumpu pada gaya hidup itu. Mereka, yang dikenal sebagai platinum society menyikapi produk fashion tidak sekadar benda tapi juga status sosial.
“Percaya atau tidak, barang-barang bermerek yang dipamerkan di toko ini, dalam dua hari saja bisa ludes. Apalagi kalau ada limited edition, malah bisa jadi rebutan,” ujar Dewa Ayu Teguh Mahasari, penulis Plaza Indonesia News.
Padahal, sebutlah sepasang sepatu merek Sergio Rossi harganya Rp 5,9 juta. Dewa Ayu yang sehari-harinya mengamati perkembangan penjualan produk-produk branded fashion di Plaza Indonesia, Jakarta ini juga percaya kalau tas Chloe model terbaru, terbuat dari kulit buaya yang dipamerkan pada peluncuran koleksi musim semi dan panas 2005 itu akan menjadi rebutan. Padahal, tas tangan handmade yang di dunia hanya diproduksi empat buah ini harganya Rp 97 juta!
Niscaya bukan Jakarta Big Bang! Apa pun yang dijual di Ibu Kota, termasuk produk terbatas seperti contoh di atas pasti ada pembelinya. Begitulah kelas atas, yang dikenal sebagai platinum society menyikapi produk fashion tidak sekadar benda tapi juga status sosial. Bukan bendanya itu sediri tapi pencitraan yang melekat menyertainya.
Fashion is all about personal style. Fashion bukan seragam yang keluar dari pabrik, demikian Ria Juwita, General Manager Retail, Lolita Lempicka. Hanya saja, untuk kasus di Indonesia yang industri fashionnya masih muda, pengikut modenya belum berani mengekspresikan diri secara bebas. Akibatnya, kalau mau bergaya, mereka melihat dulu tetangga atau komunitasnya. Maka, tak heran kalau high society di Jakarta dicerminkan oleh-ibu-ibu dengan rambut sasak tinggi menenteng tas Hermes. Jadi, status sosial di Indonesia ditentukan oleh merek yang dipakai.
Jangan heran kalau ada seorang wanita pengusaha atau ibu-ibu kaya setiap bulannya bisa membelanjakan uangnya lebih dari Rp 50 juta produk-produk international branded fashion, yang butiknya sudah ada di Jakarta. Komunitas mereka, dengan profil yang digambarkan di atas, tidak sedikit meski juga tidak besar. Contoh yang paling mendekati mungkin seperti yang digambarkan dalam film Arisan, yang anggotanya selalu memakai busana dan aksesoris mahal mode terbaru.
Dewa Ayu tidak melebih-lebihkan cerita tentang kegilaan belanja kaum platinum Ibu Kota tersebut. Ninik Puspitasari, pejabat PR Pedder Group di Indonesia, bahkan mengamini pengamatan Dewa Ayu tersebut. Menurut Ninik, kalau ada produk baru, para pelanggan setianya akan selalu menyempatkan diri mampir ke tokonya untuk melihat-lihat. Kalau ada yang cocok, pastilah mereka membeli. Tidak peduli berapa pun harganya.
Maka jangan heran kalau Sarah Leung, Marketing Communications Coordinator Pedder Group yang memegang 20 merek ternama di dunia—antara lain Dolce & Gabbana, Jimmy Choo, Rene Caovilla, Car Shoe, Balenciaga, Chloe, Giuseppe Zanotti, Helmut Lang, Luella, Marni, Mulberry, Marc Jacobs, Stella McCartney, Anya Hindmarch, dan Sergio Rossi—mengatakan bahwa Jakarta adalah pasar yang sangat prospektif bagi produk-produknya. Karena itu, setelah satu tahun melakukan tes pasar di sini, Pedder Group memutuskan berkonsentrasi penuh menggarap pasar Jakarta dengan memperbesar gerainya di Plaza Indonesia. Dalam masa tes pasar itu, menurut Sarah Leung, penjualan tokonya 50% lebih tinggi dari target awal!
Ninik tahu banget bagaimana memasarkan produk fashionnya di Jakarta. Kuncinya terletak pada pelayanan serta pendekatan personal kepada pelanggannya. “Kami harus tahu taste masing-masing pelanggan,” katanya di sela-sela peluncuran koleksi musim semi 2005 akhir April lalu – padahal di Indonesia hanya mengenal dua musim, hujan dan kemarau.
Untuk mengenali selera pelanggannya, On Pedder memiliki customer databased yang direkam dari setiap transaksinya. Berdasarkan databased itu, lanjut Ninik, On Pedder bisa menawarkan produk baru yang kemungkinan cocok dengan selera mereka. “Kami akan menelepon untuk menginformasikan produk baru itu. Kalau tertarik, mereka akan datang ke toko. Dan biasanya kalau cocok, barang akan langsung dibawa pulang.”
Selain lewat penyampaian informasi secara langsung melalui telepon, kata Ninik, informasi produk baru juga dilakukan lewat penyelenggaraan customer event—berupa trunk show—dan press event dengan mengundang wartawan sejumlah media. Tidak hanya itu, kampanye produk baru juga dilakukan lewat kerjasama dengan media—berupa peminjaman barang untuk keperluan pemotretan di halaman mode.
Ninik bercerita bahwa pelanggan On Pedder sebetulnya bisa dengan mudah dikenali. “Karena biasanya orangnya itu-itu juga.” Meskipun demikian, toh Pedder Group tetap merasa perlu mengikat loyalitas mereka dengan kartu VIP yang bisa berfungsi sebagai kartu diskon.
Memang tidak mudah mengelola merek-merek ternama. Jatuh bangun itulah yang dialami Dewi Moran dari Mahagaya Group, pemegang sejumlah merek, seperti Prada, Aigner, Hugo Boss, dan lain-lain. “Tahun 1990 kami menjadi distributor beberapa merek fashion. Sebetulnya sih sejak 1984 kami sudah merintis, sebelum ada banyak mal, cuma ada Ratu Plaza,” tuturnya.
Memang tidak mudah menjual branded fashion kepada masyarakat Indonesia. Untungnya, komunitas pecinta fashion di Indonesia yang memang terbatas itu sudah akrab dengan fashion merek-merek global, karena sebelumnya mereka sudah belanja ke luar negeri, Singapura atau Hongkong, misalnya. Jadi, ketika merek-merek itu hadir di Indonesia, mereka sudah tidak asing lagi. Menurut Dewi, pelanggannya adalah orang-orang yang tahu mode. “Kebanyakan suka yang serba praktis, tapi tidak jarang ada yang lebih berani, lebih fashionable, mengikuti tren terbaru,” katanya.
Dewi mengaku bahwa persaingan di industri fashion makin ketat, apalagi konsumen yang benar-benar loyal pada satu merek hampir tidak ada. “Mereka membeli apa yang mereka suka. Pilihannya sangat beragam,”ungkapnya.
Hanya saja, Dewi yakin kalau perekonomian makro Indonesia membaik, industri fashionnya juga tumbuh dengan baik. Memang, kata Dewi, untuk kelas premium pembeli barang-barang branded fashion hampir tidak terpengaruh dengan goncangan ekonomi – paling tidak kalau dibandingkan dengan kelas menengahnya, apalagi bawah. Tapi tetap saja, ketika terjadi krisis moneter di Indonesia beberapa tahun yang lalu sejumlah gerai merek tertentu terpaksa gulung tikar, sebutlah V2 Classic atau Isey Miyake.
Pelajaran berharga seperti itu barangkali yang membuat Lolita Lempicka lebih berhati-hati ketika masuk Indonesia Juni tahun lalu. Merek asal Prancis itu diluncurkan 11 Juni di rumah Adityawarman, Jakarta, dan dihadiri oleh sang pemilik merek, Lolita Lempicka itu menawarkan koleksi baju, ada aksesoris yang kami namakan custom jewelleries, kemudian ada parfum untuk laki-laki dan wanita.
Di kantor pusatnya, Paris, Lolita pertama kali buka tahun 1984. Butik Lolita di Plaza Indonesia merupakan yang pertama di Asia Tenggara. “Tadinya, kami mau buka di Singapura, tapi investornya lebih memilih buka dulu di Jakarta, karena pasarnya lebih besar,” ungkap Ria Juwita, sang general manager.
Menurut Ria, di Singapura itu tantangannya lebih besar karena orang Singapura itu lebih menerima hal-hal yang sudah pasti dan sudah eksis. Sedangkan, Jakarta rasa penasarannya lebih besar, sehingga potensi pembelinya lebih besar. Dan belakangan memang terbukti, pasar premium pecinta mode terus tumbuh. “Bisa dilihat dari banyaknya branded fashion luar negeri yang masuk ke Indonesia,”tukas Ria.
Mantan peragawati tahun 1980-an itu menjelaskan bahwa Lolita menyasar wanita kelas A dan A+ dengan usia 30 - 50 tahun. Niece market-nya adalah ibu-ibu yang senang dandan, mengikuti mode, dan cenderung bereksperimen dengan warna. Lolita memang bercirikan mempunyai warna-warna yang berani, mulai dari pink, orange, merah, dan sebagainya, sementara style-nya pun amat feminin dan girly. “Lolita diciptakan untuk perempuan yang benar-benar confidence dalam berbusana,”katanya sambil menambahkan bahwa customer based Lolita sekitar 500-an orang.
Kalau dideskripsikan lebih lanjut, kondisi psikografis pelanggan Lolita adalah ibu-ibu muda, eksekutif muda, bankir, lawyers, atau siapa pun yang masuk kalangan platinum society. Maklum, Lolita yang mengeluarkan tak kurang dari 85 koleksi setiap musimnya, menjual produknya dengan harga Rp 4 -5 juta bahkan ada yang Rp 22 juta per potong.
Followers
About Me
- MUJI ANANTA
- Lulus dari seni rupa Solo Dan Jogya, jurusan seni kriya batik, patung dan ukir kayu,dan melanjutkan ke Design Komunikasi Visual ( DISKOMVIS ) Menyukai Teater, dan lukis, telah mengikuti beberapa lomba dan pameran, baik, pameran seni kriya, patung, lukis di solo dan jogya Bekerja di Ramayana Lestari Santosa Tbk Group di Jakarta( 1992 – 1993) Surabaya ( 1993 – 1994 ) Jogyakarta( 1994 – 1995 ) Semarang( 1996 – 1997 ) Bali ( 1997) sebagai Visual merchandiser. Visual merchandiser Pt Pakuwon Jati Tunjungan plasa Surabaya( 1995) Dekorator Citraland Semarang ( 1996 – 1997 ) Fashion Show Bali fashion week 2001 Hongkong Fashion Week 2006 Bali fashion week 2005 Fashion Tendenace APPMI Jakarta 2005 Fashion JFFF Jakarta 2006 Bali fashion week 2007 Dubai Fashion Week 2005 Fashion show german venus fair 2007 Fashion show indonesia switzerland 2008 Jebolan tata busana di LPTB Adrianto Halim Masuk APPMI ( 2004 sampai sekarang, Sebagai guru pengajar di Bali design Scholl LPTB Susan Budihardjo bali thn 2008 Fashion Els School Bali
No comments:
Post a Comment